Sabtu, 21 Oktober 2017

Limbah Plastik Disulap Jadi Aspal Jalanan

Limbah Plastik Disulap Jadi Aspal Jalanan

Portal Harapan Bangsa - Surabaya Pengelolaan sampah plastik di Indonesia menjadi masalah kronis, selain itu juga sudah menjadi isu global. Berdasarkan data dari Jambeck (2015) diperkirakan 3,32 juta metrik ton limbah plastik di Indonesia belum terkelola baik di mana 0,48-1,29 juta metrik ton masuk ke laut.

Hal tersebut membuat Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan bersama dengan Menteri Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono bersinergi bersama-sama untuk mencari solusi terhadap persoalan limbah plastik tersebut melalui inovasi teknologi. Menurut menteri Basuki, limbah plastik bisa dibuat menjadi aspal. Ini merupakan hasil penelitian Badan Penelitian Pengembangan (Balitbang) Kementerian PUPR.

"Sampah plastik ini muaranya ke laut, inilah mengapa Menko Kemaritiman yang bergerak. Kalau sampah botol dicari orang, tetapi sampah kantong plastik kresek tidak ada nilai ekonomisnya. Sekarang kita coba agar sampah plastik itu punya nilai ekonomi yang tinggi," kata Menteri Basuki saat bersama Menteri Luhut Binsar Panjaitan melihat langsung penerapan Teknologi Campuran Beraspal Menggunakan Limbah Plastik di Jalan Sultan Agung, Bekasi pada Sabtu (16/9) lalu.

Menurut Menteri Basuki, sebenarnya penelitian pemanfaatan limbah plastik sudah mulai dilakukan sejak 2008 oleh Balitbang PUPR. Kemudian atas inisiatif Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, penelitian ini terus dikembangkan dan diintensifkan sejak awal tahun 2017.

"Kami sudah melakukan uji coba penerapan hasil penelitian tersebut di jalan dengan volume lalu lintas rendah di Universitas Udayana Bali sepanjang kurang lebih 700 meter pada 18-19 Juli 2017. Hasilnya ternyata cukup baik. Untuk itu, sekarang kami coba di Jalan Sultan Agung Bekasi sepanjang 2 km dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi," katanya.

Menteri Basuki juga menyebut setelah uji coba di Kota Bekasi, teknologi aspal plastik akan diterapkan di beberapa tempat lainnya seperti Cilincing, Surabaya, Medan dan pada rest area ruas tol Tangerang-Merak. Hal tersebut perlu dukungan dari pemangku kepentingan terkait, seperti Kementerian Perindustrian dan Pemerintah Daerah untuk menyiapkan rantai pasok (supply chain) karena limbah plastik kresek sebagai campuran aspal perlu dicacah terlebih dahulu sehingga untuk pemanfaatan lebih luas perlu ketersediaan pasokan.

"Di bawah koordinasi Menko Kemaritiman, saat ini kami tengah memikirkan bagaimana model bisnis yang tepat untuk mengolah sampah plastik tersebut. Apakah dari bank sampah, pengepul atau pemulung," lanjut Menteri Basuki.

Sementara itu Menko Maritim Luhut Pandjaitan menyatakan bangga dengan hasil karya anak bangsa dalam penelitian pemanfaatan sampah plastik sebagai campuran aspal jalan, "Saya memberikan apresiasi kepada Kementerian PUPR atas kerja bersama yang konkret ini," kata Menteri Luhut.

Dia menambahkan bahwa apapun hasil model bisnis yang akan dikembangkan, tentunya harus memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat kecil yang mengumpulkan dan memilah sampah plastik tersebut.

"Hasilnya tampak sangat baik dan sama sekali tidak mengurangi kualitas jalan. Bahkan justru bisa menambah kerekatan jalan. Ketika diukur suhunya masih aman yaitu 150-180 derajat celcius, plastik tidak terdegradasi. Masih jauh dari batas degradasi sampah yaitu 250-280 derajat Celcius, sehingga belum memasuki tahap mengeluarkan racun," kata Deded P. Syamsudin Kepala Puslitbang Jalan dan Jembatan, Kementerian PU.

Rencana ke depan limbah plastik tersebut akan dijadikan sebagai bahan campuran aspal dengan komposisi 6 persen yang akan digunakan untuk pemeliharaan jalan. Dikarenakan kebutuhan preservasi jalan nasional mencapai 47 ribu km. Jika satu kilometer jalan butuh 3 ton plastik maka perlu limbah plastik sebanyak 140 ribu ton yang kemudian dicacah menjadi plastik ukuran 5 milimeter.( Red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar